3 November 2011

PUISI

Hanya Kau Belahan Jiwaku
kau hadirkan diri mu, di saat aku perlukan
kau hulurkan tangan mu ketika aku jatuh terkulai
kau tunjuk arah ku, ketika aku tersesat jalan..
kau terangi langkah ku ketika aku kegelapan..

diri mu belahan jiwa ku...cinta mu anugrah buat ku
walau kau jauh beribu batu,,kau senantiasa dlm hati ku
karena Tuhan lebih tau..semoga dg ridha Nya kita dpt bersatu

Karena Cinta Ku Rela Menderita
Andai hangat nya mentari itu sinar bahagia
Akan ku songsong hinga ke senja..
Andai turun nya hujan lukisan air mata
Akan ku tadah seperti mutiara..

Karena cinta ku rela menderita.
Kau yg tk pernah mengerti arti nya cinta dan setia
Semua pengorbanan ku kau anggap biasa..
Bila saat nya tiba nanti baru kau rasa..
Setelah kutinggalkan dunia yg fana


Tentang Merpati
Kabar burung
Merpati lambang cinta
Namun buntung
Simpati betambang duka

Gosip pagi di televisi
Merpati jalinan asmara
Tapi kasih tak pasti
Saksi perjalanan murka

Lidah orang bersahutan
Merpati itu suci
Pindah sarang berbarengan
Bertelur
Menetas
Lalu jadi burung kawakan
Apa yang suci?
Dasar tukang kawin

Pebincangan datuk
Merpati simbol kemakmuran
Sampai dibuatnya aku suntuk
Tetap merpati binatang sembarangan

Ribuan mata terpaku
Merpati putih berkicau
Indah menurut mereka
Menanjakan telinga pendengarnya
Damai bagi kalian
Masih saja aku sendirian

Merpati
Enyalah dariku
Kau cuma berbakhti
Tak bisa berpadu
Cinta antara dia dan daku

(Roil Jiwang Muhtadin : Jakarta, 15 Juni 2009)
Sumber: revolusisenja.indosastra.com

Puisi Sahabat
Sahabat
Telah kau daki
Gunung kemerdekaan
Menuju sinar harapan
Kehidupan masa depan
Menuju kebahagian

Sahabat
Relung waktu telah lalu
Rindu hati ingin bertemu
Walau surya telah berlalu
Dirimu masih ku tunggu
Dalam paruh waktuku

Sahabat
Aku memuja seraya berdoa
Kesehatan dan keberkahan
Tetap menyertaimu
Bersama KuasaNya
Kau akan bahagia

Sahabat
Ketika hati ini bergeming
Gema Adzan berkumandang
Dikaulah yang membimbing
Ke Surau kecil desa
Bersujud kepadaNya
Hingga raga ini tenang

Sahabat
Sukma melemah
Jiwa berserah
Tak tahu arah
Terhentilah darah

Sahabat
Telah berujung riang
Gaung cinta persaudaraan
Telah kau tebarkan
Mengisi celah darah
Terpendam lubuk dalam

Sahabat
Lukisan kata tepat
Hembusan angin bertempat
Riasan duniawi bersifat
Dalam kota terpadat
Semoga masih sempat
Citra ini terdapat

(Roil Jiwang Muhtadin : Jakarta, 14 Juni 2009)
Sumber: revolusisenja.indosastra.com



0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...